Teori Perkembangan Kognitif Sara Smilansky
- Biografi
Sara
smilansky adala seorang guru besar di Tel Aviv, University Israel. Smilansky
peduli terhadap psikologi anak dan mengemukakan tentang mengembangkan kognitif
anak melalui permainan. Diyakini melalui permainan dan pengalaman nyata membuat anak mempunyai
imajinasi .
- Teori
Smilansky dalam Joan Alamon percaya bahwa pendidikan anak merupakan hal
yang fundamental dalam memberikan
kerangka terbentuknya perkembangan dasar-dasar pengetahuan , sikap dan
keterampilan pada anak. Proses pendidikan dan pembelajaran pada anak hendaknya
dilakukan dengan tujuan memberikan konsep-konsep dasar yang memiliki kebermaknaan
melalui pengalaman yang nyata, sehingga anak dapa memperoleh pengetahuan baru
untuk menunjukkan kreativitas dan rasa ingin tahu secara optimal. Pada
rentangan usia ini anak akan mengalami masa keemasan/Golden Age dimana anak mulai peka terhadap
diri dan lingkungannya dengan melalui stimulasi yang diberikan. Masa ini juga
merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif,
psikomotorik, bahasa, sosio emosional dan spiritual.
Menurut Smilansky , setiap anak
harus mengalami pengalaman bermain yang banyak . anak belajar melalui panca
indranya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan. Kebutuhan sensorimotorik
anak didukung ketika disediakan kesempatan untuk berhubungan luas atau di dalam
ruangan. Untuk itu, berikan kesempatan untuk bergerak secara bebas bermain di
halaman, di lantai , atau di meja dan di kursi. Kebutuhan sensorimotorik anak
didukung bila lingkungan baik di dalam maupun di luar ruangan menyediakan
kesempatan untuk berhubungan dengan banyak tekstur dan berbagai jenis bahan
bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak
Teori ini merupakan adaptasi tahap
perkembangan bermain kognitif dari Piaget dan dia membagi perkembangan bermain
kognitif anak atas empat kategori tahapan bermain pada anak usia
dini, sebagai berikut:
1. Bermain
Fungsional (Fungcional Play)
Bermain
seperti ini ulang Ciri-cirinya
adalah sederhana, menyenangkan dengan gerakan berulang-ulang menggunakan alat
atau tanpa alat, oleh anak usia sampai 2 tahun. Melalui bermain fungsional atau
juga disebut practice play/bermain praktek, anak-anak mulai merasa yakin
dan mampu akan tubuh mereka. contohnya: berlari-lari, mendorong
dan menarik mobil-mobilan.
2. Bermain
Membangun (Constructive Play)
Bermain konstruktif merupakan bentuk
permainan aktif dimana anak membangun sesuatu dengan mempergunakan bahan atau
alat permainan yang ada semula bersifat reproduktif artinya anak hanya
memproduksi objek yang dilihatnya sehari-hari atau mencontoh gambar atau bentuk
yang diberikan. contohnya menyusun puzzle, Lego, atau Balok Kayu.
3. Bermain
Pura-pura (Make-believe play)
Dalam
bermain dramatisasi anak-anak menirukan kegiatan orang yang dijumpainya sehari-hari
atau berperan/memainkan tokoh-tokoh dalam film kartun atau dongeng. Dimana anak
melakukan peran imajinatif atau memerankan tokoh yang dikenalnya melalui
film/dongeng/cerita lebih ditekankan pada bermain makro. Contoh
dokter-dokteran, polisi-polisian, atau meniru tukang bakso.
Khusus tentang Dramatic play, Smilansky meyakini bahwa bermain melalui
dramatic play sangat penting dalam mengembangkan kreativitas, intelektual,
bahasa dan keterampilan social dan emosional. Tidak semua anak memiliki
pengalaman dramatic play. Melalui dramatic play anak dapat mengembangkan
kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, belajar menampilkan peran yang dapat
diterima lingkungannya dan juga keterampilan bersosialisasi agar kelak mampu
menyesuaikan diri dengan kelompok social di masyarakat ataupun teman sebayanya.
4. Bermain dengan
peraturan (Game with rules)
Dalam
kegiatan bermain ini, anak sudah memahami dan bersedia mematuhi peraturan
permainan. Aturan permainan pada awalnya dapat dan boleh diubah sesuai
kesepakatan orang yang terlibat dalam permainan aslkan tidak menyimpang jauh
dari aturan umumnya, misalnya bermain kartu domino, bermain tali atau monopoli. Jenis bermain seperti ini,
mengembangkan koordinasi fisik anak, menghaluskan keterampilan sosial dan
berbahasa serta membangun konsep kerja sama dan kompetisi atau lomba.
Pada intinya
bermain sangat mendukung perkembangan kognitif anak, social dan emosionalnya
dan juga merupakan kegiatan yang sangat kondusif bagi semua aspek perkembangan
anak.
- Contoh Program Kegiatan Bermain Teori Sara Smilansky
|
Komponen
|
Uraian
|
|
Rentang Usia
|
Early childhood (4-5 tahun)
|
|
Tujuan
|
Anak mampu memahami aturan
Anak mampu bekerjasama dengan anak
lain
Anak mampu menahan diri
Anak mampu bersikap toleransi
Anak mampu bergerak dengan cepat
|
|
Materi
|
Bermain Menjala Ikan (bermain dengan aturan)
Ajaklah
anak-anak untuk membayangkan area bermain sebagai kolam ikan yang berisi
ikan-ikan yang sangat lincah. Buatlah dua jala ikan, masing-masing terdiri
dari tiga anak yang bergandeng tangan memanjang. Anak-anak lain menjadi ikan
yang berenang lincah di dalam kolam.
Pada
saat aba-aba dimulai, kedua jala berusaha menangkap ikan-ikan yang berenang.
Ikan-ikan
harus menghindar dari tangkapan itu.
Ikan
yang tertangkap akan menjadi perpanjangan jala. Jika jala sudah menjadi enam
anak, maka jala harus dipecah menjadi dua buah jala.
Setelah
permainan berjalan selama lima menit, permainan dihentikan untuk menghitung
mata jala yang terbentuk.
Buatlah
lagi dua jala baru, dan permainan dimulai lagi dari awal.
|
|
Metode
|
Praktek langsung
|
|
Media
|
Tubuh anak
|
|
Urutan Kegiatan Bermain
|
1. Pendidik mengondisikan
anak-anak untuk siap bermain
2. Pendidik menjelaskan
cara bermain
3. Pendidik bersama anak
menentukan aturan permainan
4. Anak-anak diminta
untuk mulai bermain
5. Pendidik mengawasi dan
memberikan bantuan/penjelasan jika diperlukan
|
Daftar
Pustaka
Suryana,
Dadan.2013. Pendidikan Anak Usia Dini. Padang : UNP Press
(Jackman, Hilda L, 2012, h.21 dan
Sujiono, Yuliani Nurani, 2009 hh 118-119)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar