BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
usia
dini merupakan masa keemasan yang patut diperhatikan. Semua tahap perkembangan
pada usia dini harus menjadi pusat perhatian karena setiap tahap mempunyai
karakter khusus yang unik, sehingga
masing-masing anak akan memiliki
karakter yang berbeda. Perbedaan ini salah satunya yaitu perbedaan emosi antara
anak. Seorang guru yang professional harus peka terhadap perbedaan ini, karena
emosi sendiri akan berpengaruh pada relasi social dan moral anak. Emosi memainkan peranan penting
dalam kehidupan. Hal ini menyangkut tentang perkembangan dan pengaruhnya dalam
penyesuaian pribadi serta social.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,agar dalam penulisan makalah ini mendapatkan hasil
yang di inginkan,maka penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah.rumusan
masalah itu adalah:
1. Apakah yang di maksud emosi?
2. Bagaimanakah tahap perkembangan social anak?
3. Seperti apakah emosi sebagai basis relasi social anak?
4. Bagaimana hubungan antara emosi dengan moral anak?
C. Tujuan
1. untuk memahami arti emosi.
2. Untuk mengetahui tahap perkemanagn social anak.
3. Untuk mengetahui tentang emosi sebagai basis relasi
social anak.
4. Untuk mengetahui hubungan antara emosi dan moral anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
emosi
Emosi
merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang
sifatnya disadari. Oxford english dictionary mengartikan emosi sebagai suatu
kegiatan atau pergolakan pikiran,perasaan,nafsu,atau setiap keadaan mental yang
hebat.selain itu, Daniel Goleman emosi sebagai sesuatu yang merujuk pada suatu
perasaan dan pikiran-pikiran khas nya, suatu keadaan biologis dan psikologis, serta
serangkaian kecendrungan unutk bertindak. Emosi dapat dikelompokkan sebagai
suatu rasa marah,rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel atau malu.
Menurut Wijikongko (1997:21) mendefinisikan
bahwa emosi adalah kekuatan tanpa batas, energy vital yang dapat kita
manfaatkan untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Badudu-Zain (2001:385)
mengungkapkan bahwa emosi adalah rasa hati, perasaan, gerak rasa seperti rasa
cinta, pilu, sedih, duka cita, iba, cinta, iba, murka dan lain sebagainya.
Jadi, Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong
individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang
berasal dari dalam maupun dari luar diri seseorang
B.
Perkembangan sosial
Menurut
Hurlock Bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilakuyang
sesuai dengan tuntutan social. “Sosialisasi “ adalah Kemampuan bertingkah laku
sesuai dengan norma nilaiatau harapan social
a.
Proses Perkembangan Sosial
Menurut Hurlock proses sosialisasi ada, sebagai berikut ini:
1.
Belajar untuk bertingkah laku
dengan cara yang tepat diterima dimasyarakat
2.
Belajar memainkan peran sosial
yang ada dimasyarakat.
3.
Mengembangkan sikap / tingkah laku
social terhadap individu lain dan aktivitassosial yang ada di masyarakat
Berdasarkan ke-3
tahap proses sosial ini individu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :
1. Individu social.
1. Individu social.
2. Individu non
sosial. Menurut teori perkembangan psikososial Erikson ada empat tingkat
perkembangan anak yaitu :
a. Usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust versus
mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan
dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya.
Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan
kecurigaan terhadap lingkungan.
b. Usia 2 - 3 tahun, yaitu
autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan
apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan
bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan
kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang
anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak
merasa malu.
c. Usia 4 - 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt,
yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam
lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak,
maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi,
pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
d. Usia 6 - 11 tahun, yaitu industry versus
inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang
tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri,
dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan
kurang percaya diri.
Menurut
dini p. Daeng S (1996 : 114) ada empat faktor yang mempengaruhi kemampua anak
bersosialisasi yaitu :
1. adanya
kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang disekitarny adari berbagai usia dan
latar belakang.
Semakin
banyak dan bervarisasi pengalaman dalam bergaul dengan orang-orang
dilingkungannya, maka semakin banyak pula hal-hal yang dipelajarinya, untuk
menjadi bekal dalam meningkatkan ketarampilan dalam bersosialisasi
2. adanya
minat dan motivasi untuk bergaul
semakin
banyak pengalamn yang menyenangkan yang diperoleh dalam pergaulan dan aktivitas
sosialnya, minat dan motivasi untuk bergaul juga akan semakin berkembang.
3. Adanya
bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya model atau tauladan
bagi anak.
4. Adanya
kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
Dalam
berkomunikasi dengan oranglain, anak tidak hanay dituntut untuk beromunikasi
dengan kata-kata yang dpat dipahami, tetapi juga dapat membicarakan topik yang
dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
Kemampuan berkomunikasi ini menjadi inti dala kegiatan bersosialisasi.
C. Emosi
sebagai basis relasi sosial
Relasi
menurut kamus besar bahasa indonesia dapat di artikan sebagai hubungan,
perhubungan, pertakian atau pelayanan.
Relasi
sosial dapat di defenisikan sebagai jalinan interaksi yang terjadi antara
perorangan dengan perorangan atau kelopmpok dengan kelompok atas dasar status(kedudukan)
dan peranan sosial. Proses ialah bentuk jalianan interaksi yang terjadi antara
perorangan atu kelompok yang bersifat dinamik dan berpola tertentu
emosi
anak akan mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara
berinteraksi maupun dalam bergaul dengan lingkungan sekitarnya, dari hal inilah
terlihat bagaimana perkembangan sosial seorang anak.
D. Emosi
sebagai basis moralitas
a.
Pengertian moral
Moral adalah tindakan yang dinilai positif oleh
manusia lainnya. Moral secara ekspilsit adalah hal-hal yang berhubungan dengan
proses sosialisasi. Individu tanpa moral tidak bisa bersosialisasi. Moral
adalah perbuatan / tingkah laku / ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan
orang lain. Apabila yang dilakukan oleh orang tersebut dinilai bermoral (sesuai
dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat), maka orang tersebut dapat dengan
mudah diterima di lingkungan masyarakat tersebut.
Nilai intrinsic moral diungkapkan dalam
kenyataan bahwa dari sudut pandang moral, kita tidak hanya peduli tentang
bagaimana orang bertindak, namun juga tentang bagaimana mereka merasa. Ini
terjadi karena emosi adalah ungkapan tulus dari sikap dasar kita dan
nilai-nilai yang abadi. Ini menunjukkan bahwa moral dipengaruhi oleh
emosi, dan pengendalian moral oleh emosi akan mempengaruhi interaksi social
kita, dalam kata lain proses sosialisasi yang kita jalani dalam kehidupan
sehari-hari.
b.
Fungsi moral
Tiga fungsi moral terhadap emosi :
1. Emosi mempunyai
peran yang penting dalam menanggapi stimulus dan respon terhadap suatu moral
dalam satu situasi
2. Emosi dapat
memositivasi kita dalam mengembangkan tingkah laku yang sesuai moral dan
melawan tindakan tidak bermoral
3. Emosi mempunyai
peran yang komunikatif dalam menunjukkan pengertian tindakan kita
terhadap orang lain. Kadang kita tidak menyadari seberapa peduli kita terhadap
seseorang sampai adanya rasa cemburu, takut dan sebagainya.
Keberhasilan perkembangan moral berarti
di milikinya emosi dan perilaku yang mencerminkan kepedulian akan orang lain:
saling berbagi, bantu-membantu, saling menumbuhkan, saling mengasihi, tenggang
rasa dan kesediaan mematuhi aturan-aturan masyarakat. Agar menjadi manusia
bermoral, william damon, sorang profesor di brown university, yang di anggap
salahsatu pakar terkemuka amerrika dalam perkembangan moral anak-anak dan
remaja, menyatakan bahwa anak-anak harus mendapatkan keterampilan emosional dan
sosial sebagai berikut:
Ø Mereka
harus mengikuti dan memahami perbedaan antara perilaku yang baik dan yang buruk
dan mengembangkan kebiasaan dalam hal perbuatan yang konsisten dengan sesuatu
yang di anggap baik.
Ø Mereka
harus mengembangkan kepedulian, perhatian dan rasa tanggung jawab atas
kesejahteraan dan hak-hak orang lain, yang di ungkapkan melalui sikap peduli,
dermawan, ramah dan pemaaf.
Ø Mereka
harus merasakan reaksi emosi negatif seperti malu, bersalah, marah, takut, dan
rendah bila melanggar aturan moral
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Emosi
merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang
sifatnya disadari. emosi
anak akan mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara
berinteraksi maupun dalam bergaul dengan lingkungan sekitarnya, dari hal inilah
terlihat bagaimana perkembangan sosial seorang anak. Dan juga Keberhasilan
perkembangan moral berarti di milikinya emosi dan perilaku yang mencerminkan
kepedulian akan orang lain
B.
Saran.
Setelah membaca makalah ini di
harapkan kepada kita semua agar lebih memahami emosi sebagai basis moralitas social
dan juga kami butuh saran dari pembaca karena makalah ini jauh dari sempurna.
Daftar pustaka
Shapiro,
E Lawrence.1986.mengajarkan emosional intelegence pada anak.jakarta:gramedia
pustaka utama.
santrock,
john W.2007.perkembangan anak.jakarta:erlangga
Hurlock,Elizabet.1978. Perkembangan Anak. Jakarta:
Erlangga.
http://www.academia.edu/4940639/PERKEMBANGAN_SOSIO_EMOSIONAL_ANAK_USIA_DINI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar