Selasa, 01 Desember 2015

EMOSI SEBAGAI BASIS RELASI SOSIAL DAN MORALITAS ANAK USIA DINI



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
usia dini merupakan masa keemasan yang patut diperhatikan. Semua tahap perkembangan pada usia dini harus menjadi pusat perhatian karena setiap tahap mempunyai karakter khusus yang unik, sehingga masing-masing anak akan  memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan ini salah satunya yaitu perbedaan emosi antara anak. Seorang guru yang professional harus peka terhadap perbedaan ini, karena emosi sendiri akan berpengaruh pada relasi social dan moral anak. Emosi memainkan peranan penting dalam kehidupan. Hal ini menyangkut tentang perkembangan dan pengaruhnya dalam penyesuaian pribadi serta social.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,agar  dalam penulisan makalah ini mendapatkan hasil yang di inginkan,maka penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah.rumusan masalah itu adalah:
1.      Apakah yang di maksud emosi?
2.      Bagaimanakah tahap perkembangan social anak?
3.      Seperti apakah emosi sebagai basis relasi social anak?
4.      Bagaimana hubungan antara emosi dengan moral anak?

C.     Tujuan
1.      untuk memahami arti emosi.
2.      Untuk mengetahui tahap perkemanagn social anak.
3.      Untuk mengetahui tentang emosi sebagai basis relasi social anak.
4.      Untuk mengetahui hubungan antara emosi dan moral anak.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian emosi
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang sifatnya disadari. Oxford english dictionary mengartikan emosi sebagai suatu kegiatan atau pergolakan pikiran,perasaan,nafsu,atau setiap keadaan mental yang hebat.selain itu, Daniel Goleman emosi sebagai sesuatu yang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khas nya, suatu keadaan biologis dan psikologis, serta serangkaian kecendrungan unutk bertindak. Emosi dapat dikelompokkan sebagai suatu rasa marah,rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel atau malu.
Menurut Wijikongko (1997:21) mendefinisikan bahwa emosi adalah kekuatan tanpa batas, energy vital yang dapat kita manfaatkan untuk meraih kesuksesan dalam hidup.  Badudu-Zain (2001:385) mengungkapkan bahwa emosi adalah rasa hati, perasaan, gerak rasa seperti rasa cinta, pilu, sedih, duka cita, iba, cinta, iba, murka dan lain sebagainya.
Jadi, Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri seseorang

B.     Perkembangan sosial
Menurut Hurlock Bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilakuyang sesuai dengan tuntutan social. “Sosialisasi “ adalah Kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma nilaiatau harapan social
a.        Proses Perkembangan Sosial
Menurut Hurlock proses sosialisasi ada, sebagai berikut ini:
1.      Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang tepat diterima dimasyarakat
2.      Belajar memainkan peran sosial yang ada dimasyarakat.
3.      Mengembangkan sikap / tingkah laku social terhadap individu lain dan aktivitassosial yang ada di masyarakat
Berdasarkan ke-3 tahap proses sosial ini individu dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :
1. Individu social.
2. Individu non sosial. Menurut teori perkembangan psikososial Erikson ada empat tingkat perkembangan anak yaitu :
a. Usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
b. Usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.
c. Usia 4 - 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
d. Usia 6 - 11 tahun, yaitu industry versus inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kurang percaya diri.
Menurut dini p. Daeng S (1996 : 114) ada empat faktor yang mempengaruhi kemampua anak bersosialisasi yaitu :
1.      adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang disekitarny adari berbagai usia dan latar belakang.
Semakin banyak dan bervarisasi pengalaman dalam bergaul dengan orang-orang dilingkungannya, maka semakin banyak pula hal-hal yang dipelajarinya, untuk menjadi bekal dalam meningkatkan ketarampilan dalam bersosialisasi
2.      adanya minat dan motivasi untuk bergaul
semakin banyak pengalamn yang menyenangkan yang diperoleh dalam pergaulan dan aktivitas sosialnya, minat dan motivasi untuk bergaul juga akan semakin berkembang.
3.      Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya model atau tauladan bagi anak.
4.      Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
Dalam berkomunikasi dengan oranglain, anak tidak hanay dituntut untuk beromunikasi dengan kata-kata yang dpat dipahami, tetapi juga dapat membicarakan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain yang menjadi lawan bicaranya. Kemampuan berkomunikasi ini menjadi inti dala kegiatan bersosialisasi.

C.     Emosi sebagai basis relasi sosial
Relasi menurut kamus besar bahasa indonesia dapat di artikan sebagai hubungan, perhubungan, pertakian atau pelayanan.
Relasi sosial dapat di defenisikan sebagai jalinan interaksi yang terjadi antara perorangan dengan perorangan atau kelopmpok dengan kelompok atas dasar status(kedudukan) dan peranan sosial. Proses ialah bentuk jalianan interaksi yang terjadi antara perorangan atu kelompok yang bersifat dinamik dan berpola tertentu
emosi anak akan mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berinteraksi maupun dalam bergaul dengan lingkungan sekitarnya, dari hal inilah terlihat bagaimana perkembangan sosial seorang anak.
                                                         
D.    Emosi sebagai basis moralitas

a.       Pengertian moral
Moral adalah tindakan yang dinilai positif oleh manusia lainnya. Moral secara ekspilsit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi. Individu tanpa moral tidak bisa bersosialisasi. Moral adalah perbuatan / tingkah laku / ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Apabila yang dilakukan oleh orang tersebut dinilai bermoral (sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat), maka orang tersebut dapat dengan mudah diterima di lingkungan masyarakat tersebut.
Nilai intrinsic moral diungkapkan dalam kenyataan bahwa dari sudut pandang moral, kita tidak hanya peduli tentang bagaimana orang bertindak, namun juga tentang bagaimana mereka merasa. Ini terjadi karena emosi adalah ungkapan tulus dari sikap dasar kita dan nilai-nilai yang abadi. Ini menunjukkan bahwa moral dipengaruhi  oleh emosi, dan pengendalian moral oleh emosi akan mempengaruhi interaksi social kita, dalam kata lain proses sosialisasi yang kita jalani dalam kehidupan sehari-hari.

b.      Fungsi moral

Tiga fungsi moral terhadap emosi :
1.      Emosi mempunyai peran yang penting dalam menanggapi stimulus dan respon terhadap suatu moral dalam satu situasi
2.      Emosi dapat memositivasi kita dalam mengembangkan tingkah laku yang sesuai moral dan melawan tindakan tidak bermoral
3.      Emosi mempunyai peran yang komunikatif dalam menunjukkan pengertian tindakan  kita terhadap orang lain. Kadang kita tidak menyadari seberapa peduli kita terhadap seseorang sampai adanya rasa cemburu, takut dan sebagainya.

Keberhasilan perkembangan moral berarti di milikinya emosi dan perilaku yang mencerminkan kepedulian akan orang lain: saling berbagi, bantu-membantu, saling menumbuhkan, saling mengasihi, tenggang rasa dan kesediaan mematuhi aturan-aturan masyarakat. Agar menjadi manusia bermoral, william damon, sorang profesor di brown university, yang di anggap salahsatu pakar terkemuka amerrika dalam perkembangan moral anak-anak dan remaja, menyatakan bahwa anak-anak harus mendapatkan keterampilan emosional dan sosial sebagai berikut:
Ø  Mereka harus mengikuti dan memahami perbedaan antara perilaku yang baik dan yang buruk dan mengembangkan kebiasaan dalam hal perbuatan yang konsisten dengan sesuatu yang di anggap baik.
Ø  Mereka harus mengembangkan kepedulian, perhatian dan rasa tanggung jawab atas kesejahteraan dan hak-hak orang lain, yang di ungkapkan melalui sikap peduli, dermawan, ramah dan pemaaf.
Ø  Mereka harus merasakan reaksi emosi negatif seperti malu, bersalah, marah, takut, dan rendah bila melanggar aturan moral


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu yang sifatnya disadari. emosi anak akan mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berinteraksi maupun dalam bergaul dengan lingkungan sekitarnya, dari hal inilah terlihat bagaimana perkembangan sosial seorang anak. Dan juga Keberhasilan perkembangan moral berarti di milikinya emosi dan perilaku yang mencerminkan kepedulian akan orang lain
B.     Saran.
Setelah membaca makalah ini di harapkan kepada kita semua agar lebih memahami emosi sebagai basis moralitas social dan juga kami butuh saran dari pembaca karena makalah ini jauh dari sempurna.














Daftar pustaka


Shapiro, E Lawrence.1986.mengajarkan emosional intelegence pada anak.jakarta:gramedia pustaka utama.
santrock, john W.2007.perkembangan anak.jakarta:erlangga
Hurlock,Elizabet.1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
http://www.academia.edu/4940639/PERKEMBANGAN_SOSIO_EMOSIONAL_ANAK_USIA_DINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar