Kamis, 03 Desember 2015

PENGENALAN HURUF HIJAIYAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE AL-BARQY



Metode al-barqy

1.      Pendiri dan Sejarah metode al-barqy
Metode al Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al Qur’an yang paling awal. Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhajir Sulton pada tahun 1965. Awalnya, al Barqy diperuntukkan bagi siswa SD Islam al Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar dengan metode ini lebih cepat mampu membaca al Qur’an. Muhajir lantas  membukukan  metodenya  pada  tahun  1978,  dengan  judul  “Cara Cepat Mempelajari Bacaan al Qur’an al Barqy”.
Muhajir   Sulthon   Manajemen   (MSM)   merupakan   lembaga   yang didirikan untuk membantu program pemerintah dalam hal memberantas but abaca tulis al Qur’an dan membaca huruf latin. Berpusat di Surabaya dan  telah  mempunyai  cabang  di  beberapa  kota  besar  di  Indonesia, Singapura dan Malaysia. Metode ini disebut ANTI LUPA karena mempunyai  struktur  yang  apabila  pada  saat  siswa  lupa  dengan  huruf- huruf atau suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan ANTI LUPA itu adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh DEPAG RI. Metode diperuntukkan bagi siapa saja mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa sehingga secara langsung dapat mempermudah dan mempercepat anak  belajar membaca. Waktu untuk belajar membaca al Qur’an menjadi semakin singkat.
Ciri khas belajar dengan metode ini adalah mudah, gembira, anti lupa dan cepat. metode anti lupa, memungkinkan peserta didik belajar sendiri dan tidak perlu bertanya kepada siapapun pada saat belajar. Dengan teknik mengajar dan metode belajar yang tepat, maka peserta didik dapat merasakan mudahnya belajar mengaji. Semoga Allah menjadikan kita manusia-manusia yang selalu rindu akan membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya..

2.      Pendekatan metode al-barqy
a.       Klasikal
b.      Individual
Dalam  metode  al  Barqy,  sistem  pembelajaran  al  Qur’an  yang  diterapkan menggunakan pendekatan klasikal dan privat, sehingga mendukung perkembangan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang dimiliki setiap individu siswa. Siswa yang memiliki kecenderungan pada dua kecerdasan iniakan menjadi dalam pembelajarannya. Dengan kata lain, ketika guru menerapkan pembelajaran model klasikal, maka siswa yang dominan di bidang kecerdasan interpersonal menjadi lebih senang ketika pembelajaran berlangsung.
Begitu sebaliknya, ketika guru menerapkan model pembelajaran privat, maka akan memberikan peluang kepada siswa yang memiliki kecerdasan intrapersonal untuk menikmati belajarnya. Seorang guru dituntut untuk mengkombinasikan kedua bentuk pembelajaran tersebut, klasikal dan privat. Namun, sebenarnya metode al Barqy ini sangat tepat dan cepat jika dipakai secara klasikal. Tentu hal ini akan lebih menguntungkan bagi siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal lebih dominan.
Disamping itu, dalam metode al Barqy ini juga akan mengakomodir siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan linguistic dan matematik. Dalam sistem pembelajarannya, metode al Barqy menggunakan sistem 8 jam, artinya hanya dengan waktu 8 jam murid dapat membaca menulis huruf al Qur’an, yang berarti memberikan ruang bagi siswa dengan kecerdasan lingistik dan matematis untuk dapat berkembang secara cepat. Selain itu, metode al Barqy juga menggunakan SAS (Struktur Analitik Sintetik) yang memudahkan murid belajar. Sementara yang kecenderungannya di bidang kecerdasan special, juga diharapkan dapat belajar baca tulis al Qur’an secara utuh. Karena, metode ini memiliki buku yang dilengkapi teknik imla’ yang praktis dan teknik menulis khat, dan dilengkapi buku latihan menulis huruf al Qur’an (LKS).
Dalam pembelajaran metode al Barqy juga mengakomodir siswa kecerdasan musical dan kinestetik. Seorang guru dituntut untuk mampu mengajar siswa dengan teknik yang tidak membosankan, seperti diselingi dengan menyanyi dan permainan. Apabila teknik benar-benar dilaksanakan oleh guru, maka siswa yang kecerdasannya di bidang musical dan kinestetik tentu akan lebih enjoy untuk mengikuti dalam proses pembelajaran

3.      Prinsip pengenalan al-kur’an berdasarkan metode al-barqy
1.      Menggunakan titian ingatan untuk mengenalkan bunyi dan bentuk huruf.
2.      Menggunakan kemiripan bentuk dan bunyi huruf sebelumnya untuk mengenal huruf yang tidak tercakup dalam kelompok titian ingatan.
3.       Langsung dikenalkan pada huruf sambung selain huruf tunggal.
4.      Langsung dikenalkan fattah, dhomah, kasrah, tanwin, panjang – pendek, dan tajwid.

            Metode ini cocok juga untuk orang dewasa yang baru belajar BBAQ, karena sistemnya yang relatif kuat mengkoneksikan belahan kiri dan kanan otak. Proses belajar jadi tidak menjemukan. Al-Barqy juga bagus sekali untuk sasaran anak usia SD tingkat atas dan remaja, karena bisa menumbuhkan rasa percaya diri dibandingkan dengan metode belajar konvensional.

4. Langkah-langkah metode al-barqy
Adapun langkah-langkah metode Al-barqy sebagai berikut :
1.      Fase analitik, yaitu guru memberikan contoh bacaan yang berupa kata-kata lembaga dan Anak mengikutinya sampai hafal, dilanjutkan dengan pemenggalan kata lembaga dan terakhir evaluasi yaitu dengan cara guru menunjuk huruf secara acak dan santri membacanya
2.      Fase sintetik, yaitu satu huruf (suku) digabung dengan yang lain, hingga berupa suatu bacaan,
3.      Fase penulisan, yaitu peserta didik menebali tulisan yang berupa titik-titik
4.      Fase pengenalan bunyi a-i-u, yaitu pengenalan terhadap tanda baca fathah, kashroh, dan dhommah.
5.      Fase pemindahan, yaitu pengenalan terhadap bacaan atau bunyi Arab yang sulit, maka didekatkan pada bunyi-bunyi Indonesia yang berdekatan.
6.      Fase pengenalan mad, yaitu mengenalkan peserta didik  pada bacaan-bacaan panjang
7.       Fase pengenalan tanda sukun, yaitu mengenalkan peserta didik pada bacaan-bacaan yang bersukun
8.      Fase pengenalan tanda syaddah, yaitu mengenalkan peserta didik pada bacaan-bacaan yang bersyaddah (berbunyi dobel)
9.      Fase pengenalan huruf asli, yaitu mengenalkan peserta didik pada huruf asli (tanpa harokat), seperti; Alif Ba’ Ta’
10.  Fase pengenalan huruf yang tidak dibaca, yaitu mengenalkan peserta didik pada huruf yang tidak mendapat tanda saksi (harokat) atau tidak dibaca,
11.  Fase pengenalan bacaan yang masykil, yaitu mengenalkan peserta didik pada huruf yang biasa dijumpai di Al Qur’an,
12.  Fase pengenalan menyambung, yaitu mengenalkan peserta didik pada huruf-huruf yang disambung di awal, di tengah, dan di akhir
13.  Tahap pengenalan tanda waqaf.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar