Metode al-barqy
1. Pendiri
dan Sejarah metode al-barqy
Metode al
Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al Qur’an yang paling awal.
Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhajir
Sulton pada tahun 1965. Awalnya, al Barqy diperuntukkan bagi siswa SD Islam al
Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar dengan metode ini lebih cepat mampu
membaca al Qur’an. Muhajir lantas membukukan metodenya
pada tahun 1978, dengan judul “Cara Cepat
Mempelajari Bacaan al Qur’an al Barqy”.
Muhajir
Sulthon Manajemen (MSM) merupakan
lembaga yang didirikan untuk membantu program pemerintah dalam hal
memberantas but abaca tulis al Qur’an dan membaca huruf latin. Berpusat di
Surabaya dan telah mempunyai cabang di beberapa
kota besar di Indonesia, Singapura dan Malaysia. Metode ini
disebut ANTI LUPA karena mempunyai struktur yang
apabila pada saat siswa lupa dengan huruf-
huruf atau suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah dapat
mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan ANTI LUPA itu adalah hasil
penelitian yang dilakukan oleh DEPAG RI. Metode diperuntukkan bagi siapa saja
mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini mempunyai keunggulan anak tidak
akan lupa sehingga secara langsung dapat mempermudah dan mempercepat anak
belajar membaca. Waktu untuk belajar membaca al Qur’an menjadi semakin singkat.
Ciri khas
belajar dengan metode ini adalah mudah, gembira, anti lupa dan cepat. metode
anti lupa, memungkinkan peserta didik belajar sendiri dan tidak perlu bertanya
kepada siapapun pada saat belajar. Dengan teknik mengajar dan metode belajar
yang tepat, maka peserta didik dapat merasakan mudahnya belajar mengaji. Semoga
Allah menjadikan kita manusia-manusia yang selalu rindu akan membaca Al-Qur’an
dan mengamalkannya..
2. Pendekatan
metode al-barqy
a. Klasikal
b. Individual
Dalam metode al
Barqy, sistem pembelajaran al Qur’an yang
diterapkan menggunakan pendekatan klasikal dan privat, sehingga mendukung
perkembangan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang dimiliki setiap
individu siswa. Siswa yang memiliki kecenderungan pada dua kecerdasan iniakan
menjadi dalam pembelajarannya. Dengan kata lain, ketika guru menerapkan
pembelajaran model klasikal, maka siswa yang dominan di bidang kecerdasan
interpersonal menjadi lebih senang ketika pembelajaran berlangsung.
Begitu sebaliknya, ketika guru menerapkan model pembelajaran privat, maka akan memberikan peluang kepada siswa yang memiliki kecerdasan intrapersonal untuk menikmati belajarnya. Seorang guru dituntut untuk mengkombinasikan kedua bentuk pembelajaran tersebut, klasikal dan privat. Namun, sebenarnya metode al Barqy ini sangat tepat dan cepat jika dipakai secara klasikal. Tentu hal ini akan lebih menguntungkan bagi siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal lebih dominan.
Begitu sebaliknya, ketika guru menerapkan model pembelajaran privat, maka akan memberikan peluang kepada siswa yang memiliki kecerdasan intrapersonal untuk menikmati belajarnya. Seorang guru dituntut untuk mengkombinasikan kedua bentuk pembelajaran tersebut, klasikal dan privat. Namun, sebenarnya metode al Barqy ini sangat tepat dan cepat jika dipakai secara klasikal. Tentu hal ini akan lebih menguntungkan bagi siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal lebih dominan.
Disamping itu, dalam metode al Barqy
ini juga akan mengakomodir siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan
linguistic dan matematik. Dalam sistem pembelajarannya, metode al Barqy
menggunakan sistem 8 jam, artinya hanya dengan waktu 8 jam murid dapat membaca
menulis huruf al Qur’an, yang berarti memberikan ruang bagi siswa dengan
kecerdasan lingistik dan matematis untuk dapat berkembang secara cepat. Selain
itu, metode al Barqy juga menggunakan SAS (Struktur Analitik Sintetik) yang
memudahkan murid belajar. Sementara yang kecenderungannya di bidang kecerdasan
special, juga diharapkan dapat belajar baca tulis al Qur’an secara utuh.
Karena, metode ini memiliki buku yang dilengkapi teknik imla’ yang praktis dan
teknik menulis khat, dan dilengkapi buku latihan menulis huruf al Qur’an (LKS).
Dalam pembelajaran metode al Barqy
juga mengakomodir siswa kecerdasan musical dan kinestetik. Seorang guru
dituntut untuk mampu mengajar siswa dengan teknik yang tidak membosankan,
seperti diselingi dengan menyanyi dan permainan. Apabila teknik benar-benar
dilaksanakan oleh guru, maka siswa yang kecerdasannya di bidang musical dan
kinestetik tentu akan lebih enjoy untuk mengikuti dalam proses pembelajaran
3. Prinsip
pengenalan al-kur’an berdasarkan metode al-barqy
1. Menggunakan
titian ingatan untuk mengenalkan bunyi dan bentuk huruf.
2. Menggunakan
kemiripan bentuk dan bunyi huruf sebelumnya untuk mengenal huruf yang tidak
tercakup dalam kelompok titian ingatan.
3. Langsung dikenalkan pada huruf sambung selain
huruf tunggal.
4. Langsung
dikenalkan fattah, dhomah, kasrah, tanwin, panjang – pendek, dan tajwid.
Metode ini cocok juga untuk orang dewasa yang baru belajar BBAQ, karena sistemnya yang relatif kuat mengkoneksikan belahan kiri dan kanan otak. Proses belajar jadi tidak menjemukan. Al-Barqy juga bagus sekali untuk sasaran anak usia SD tingkat atas dan remaja, karena bisa menumbuhkan rasa percaya diri dibandingkan dengan metode belajar konvensional.
4. Langkah-langkah metode al-barqy
Adapun
langkah-langkah metode Al-barqy sebagai berikut :
1.
Fase analitik, yaitu guru memberikan
contoh bacaan yang berupa kata-kata lembaga dan Anak mengikutinya sampai hafal,
dilanjutkan dengan pemenggalan kata lembaga dan terakhir evaluasi yaitu dengan
cara guru menunjuk huruf secara acak dan santri membacanya
2.
Fase sintetik, yaitu satu huruf
(suku) digabung dengan yang lain, hingga berupa suatu bacaan,
3.
Fase penulisan, yaitu peserta didik
menebali tulisan yang berupa titik-titik
4.
Fase pengenalan bunyi a-i-u, yaitu
pengenalan terhadap tanda baca fathah, kashroh, dan dhommah.
5.
Fase pemindahan, yaitu pengenalan
terhadap bacaan atau bunyi Arab yang sulit, maka didekatkan pada bunyi-bunyi
Indonesia yang berdekatan.
6.
Fase pengenalan mad, yaitu
mengenalkan peserta didik pada bacaan-bacaan panjang
7.
Fase pengenalan tanda sukun, yaitu mengenalkan
peserta didik pada bacaan-bacaan yang bersukun
8.
Fase pengenalan tanda syaddah, yaitu
mengenalkan peserta didik pada bacaan-bacaan yang bersyaddah (berbunyi dobel)
9.
Fase pengenalan huruf asli, yaitu
mengenalkan peserta didik pada huruf asli (tanpa harokat), seperti; Alif Ba’
Ta’
10. Fase
pengenalan huruf yang tidak dibaca, yaitu mengenalkan peserta didik pada huruf
yang tidak mendapat tanda saksi (harokat) atau tidak dibaca,
11. Fase
pengenalan bacaan yang masykil, yaitu mengenalkan peserta didik pada huruf yang
biasa dijumpai di Al Qur’an,
12. Fase
pengenalan menyambung, yaitu mengenalkan peserta didik pada huruf-huruf yang
disambung di awal, di tengah, dan di akhir
13. Tahap
pengenalan tanda waqaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar