Teori Perkembangan Kognitif dan
Fisik AUD
A. Teori Perkembangan Kognitif
1. Teori Piaget
Jean Piaget
menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka
informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan.
Seorang anak melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa
dewasa.
Dalam Rini hildayani (2008 : 3.5 ) piaget mengemukakan
beberapa proses yang dilalui anak dalam membangun dunia kognitifnya , yaitu :
·
Skema
Piaget menyebutkan bahwa segala sesuatu yang
dipelajari oleh individu dan berhasil dilakukan , diorganisasikan sebagai suatu
skema, yaitu sekumpulan pikiran atau kegiatan yang sama serta terorganisasi .
pada awalnya skema anak secara alamiah sebagian besar berbentuk perilaku.
Dengan berlalunya waktu , skema tersebut berubah menjadi operasi mental dan
akhirnya berubah menjadi abstrak .
Contoh : rani berusia 5 tahun mungkin memiliki skema
mengidentifikasi kucing, bisa berdasarkan jumlah kaki, warna bulu, suara yang
ditimbulkan dan makanan yang digemari
·
Adaptasi
Pada tahap skema , perolehan pengetahuan anak makin
bertambah karena melakukan percobaan, penemuaan baru, dan modifikasi cara
berfikir lama untuk digabungkan dengan pengetahuan baru. Sehingga dengan begitu
seseorang harus memiliki kemampuan untuk menangani informasi baru melalui
cara-cara yang disebut piaget sebagai adaptasi . menurut piaget , adaptasi
tersebut terdiri dari dua kegiatan , yaitu asimilasi dan akomodasi
a.
Asimilasi
Mengacu pada kemampuan seseorang untuk menerima
informasi baru dan mencocokkannya dengan struktur yang sudah ada . misalnya,
raka mengetahui bahwa binatang berkaki empat itu kucing. Tiba-tiba dia melihat
binatang berkaki empat berjalan dihadapannya, ia akan menyebut binatang itu
sebagai kambing.
b.
Akomodasi
Akomodasi terjadi ketika seorang anak memaknai suatu
objek atau informasi baru hanya mengandalkan skema yang sudah mereka miliki .
dalam hal inilah akan terjadi proses akomodasi, yaitu anak akan memodifikasi
atau mengubah skema struktur kognitif yang sudah ada untuk disesuaikan dengan
objek atau informasi baru dan membentuk skema baru agar sesuai.
Misalnya raka melihat hewan berkaki empat itu sebagai
kucing, lalu ibu raka melihat dan memperbaiki pengetahuan yang dimiliki raka
dengan mengatakan “bukan nak, itu kambing. Lihat ia punnya jenggot, badannya
besar dan bunyinya mbek.. mbekk”. Melalui proses ini raka melakukan akomodasi
dan membentuk skema baru dalam kognisinya
Dengan kedua proses tersebut ( asimilasi dan akomodasi
) membuat perolehan skema semakin kompleks dan mengalami modifikasi, saling
berperan dalam proses perkembangan. Asimilasi dan akomodasi saling bahu membahu
seiring dengan makin berkembangnya pengetahuan dan pengertian anak mengenai
dunia di sekitar mereka .
·
Ekulibirasi
Tahap
terakhir yaitu ekuilibirasi , keadaan ekuilibirasi terjadi saat anak dapat
menjelaskan pengetahuan baru berdasarkan skema yang sudah mereka miliki.
Misalnya , dalam kasus raka hewan berkaki empat yang lewat dihadapannya sebagai
kucing, kemudian ibunya melihat dan memperbaiki pengetahuan yang dimiliki
dengan mengatakan bahwa itu kambing. Pada awalnya akan muncul keadaan “tidak
nyaman” dalam struktur kognitifnya . naming, setelah ibunya menerangkan
perbedaan antara kucing dan kambing berdasarkan ukuran badan , bunyinya , dan cirri-cirinya
yang berbeda maka terjadi proses mengatur ulang pada struktur kognitif raka
sehingga terbentuk skema baru dan ia menjadi ekuilibirium .
Tahap –
Tahap Perkembangan kognitif Piaget
Tahap
perkembangan Piaget dibagi 4 tahap (Rini
Hildayani, dkk ; 2008 : 3.10 ), keempat tahap tersebut adalah sebagai berikut .
1.
Tahap Sensorimotor ( 0 – 2 tahun )
Bayi
memahami dunia melalui tindakan fisik dan nyata terhadap rangsang dari luar .
perilaku berkembang dari reflek – refleks sederhana melalui beberapa tahap
menuju seperangkat skema yang terorganisasi ( perilaku yang terorganiasi )
2.
Tahap praoperasional ( 2 – 7 tahun )
Anak
berpikir simbolik dan bahasa mulai jelas terlihat untuk menggambarkan objek dan
kejadian , namun cara berpikir anak belum logis dan belum menyerupai cara
berpikir orang dewasa .
3.
Tahap operasional konkret ( 7 – 12 tahun )
Cara
berpikir logis yang menyerupai orang dewasa mulai muncul , namun masih dibatasi
oleh kemampuan penalaran yang sifatnya masih berdasarkan realitas konkret.
4.
Tahap operasi formal ( 12 – dewasa )
Proses
berpikir logis sudah meliputi ide – ide abstrak , tidak lagi terbatas pada
objek – objek yang bersifat konkret .
2.
Teori
Vygotsky
Vigotsky memandang bahwa system social sangat penting
dalam perkembangan kognitif anak. Orang tua, guru dan teman berinteraksi dengan
anak dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian . jadi belajar
terjadi dalam konteks social, dan muncul istilah zone proximal development (
ZPD ). ZPD diartikan sebagai daerah
potensial seorang anak untuk belajar, atau suatu tahap dimana kemampuan anak
dapat ditingkatkan dengan bantuan orang yang lebih ahli. Daerah ini merupakan
jarak antara tahap perkembangan actual anak yang ditandai dengan kemampuan
mengatasi permasalahan sendiri. Batas tahap perkembangan potensial dimana harus
melalui bantuan orang lain yang mampu.
Berbeda dengan piaget yang memfokuskan pada
perkembangan berfikir dalam diri anak ( instrinsik ) , Vigotsky menekankan bahwa
perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh social dan
kebudayaan anak tersebut. Setiap kebudayaan memberikan pengaruh pada
pembentukan keyakinan , nilai, norma kesopanan serta metode dalam memecahkan
masalah sebagai alat dalam beradaptasi secara intelektual. Kebudayaanlah yang
mengajari anak untuk berfikir dan apa yang seharusnya dilakukan. ( Suryana,
Dadan ; 2013:81 )
3. Teori kognitif Social Bandura
Albert bandura dalam santrock ( 2008
) adala salah satu arsitek utama teori kognitif social. Dia mengatakan bahwa
ketika anak belajar , mereka dapat mempresentasikan dan mentransformasikan
pengalaman mereka secara kognitif.
Bandura mengembangkan model
determinasi resprokal yang terdiri dari tiga factor utama, yaitu perilaku,
person/kognitif , dan lingkungan . factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi
pembelajaran. Factor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi
lingkungan, factor person ( orang / kognitif ) mempengaruhi perilaku , dan
seterusnya. Factor – factor tersebut mencakup sikap introvert atau ekstravert ,
aktif atau pasif, tenang dan cemas, ramah atau bermusuhan . factor kognitif
mencakup ekspektasi , keyakinan, strategi, pemikiran, dan kecerdasan.
Dalam model pembelajaran bandura,
factor person ( kognitif ) memainkan peran penting. Factor person yang
ditekankan bandura pada self efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang bisa
menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif. Bandura mengatakan bahwa self
efficacy berpengaruh besar terhadap perilaku. Misalnya, seorang murid yang self
efficacynya rendah mungkin tidak mau berusaha belajar untuk mengerjakan ujian
karena dia tidak percaya bahwa belajar
akan bisa membantunya mengerjakan soal .
4. Sara Smilansky
Sara smilansky adala seorang guru
besar di Tel Aviv, University Israel. Smilansky peduli terhadap psikologi anak dan
mengemukakan tentang mengembangkan kognitif anak melalui permainan. Diyakini
melalui permainan dan pengalaman nyata
membuat anak mempunyai imajinasi . smilansky percaya bahwa pendidikan anak
memberikan kerangka terbentuknya perkembangan dasar-dasar pengetahuan , sikap
dan keterampilan pada anak. Proses pendidikan dan pembelajaran pada anak
hendaknya dilakukan dengan tujuan memberikan konsep-konsep dasar yang memiliki
kebermaknaan melalui pengalaman yang nyata, sehingga anak dapa memperoleh
pengetahuan baru untuk menunjukkan kreativitas dan rasa ingin tahu secara
optimal.
Menurut Smilansky , setiap anak
harus mengalami pengalaman bermain yang banyak . anak belajar melalui panca
indranya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan. Kebutuhan sensorimotorik
anak didukung ketika disediakan kesempatan untuk berhubungan luas atau di dalam
ruangan. Untuk itu, berikan kesempatan untuk bergerak secara bebas bermain di
halaman, di lantai , atau di meja dan di kursi. Smilansky mengemukakan tahapan
bermain pada anak yang meliputi bermain
fungsional, Bermain membangun, bermain pura-pura dan bermain dengan peraturan .
Pada intinya bermain sangat
mendukung perkembangan kognitif anak, social dan emosionalnya dan juga
merupakan kegiatan yang sangat kondusif bagi semua spek perkembangan anak.
B.
Perkembangan
Fisik Motorik
1. Pola
Perkembangan Fisik
Dalam
Siti Aisyiah, dkk ( 2011: 4.5 ) sebelum bayi dapat berjalan, mereka belajar
melakukan sesuatu dengan kedua tangannya. Sebelum bayi terampil menggunakan
tangan terlebih dahulu mereka belajar menggerakkan telapak tangan untuk suatu
tujuan. Perubahan ini menggambarkan tiga prinsip arah perkembangan yang
melengkapi perkembangan fisik, yaitu prinsip pola menyamping dan prinsip
membujur serta prinsip dari yang besar ke yang kecil (motorik kasar ke motorik
halus) dalam pertumbuhan dan perkembangan motorik. Ketiga prinsip arah
perkembangan tersebut diuraikan sebagai berikut:
a. Prinsip
cephalocaudal (kepala sampai ketulang ekor atau membujur)
Menyatakan bawah perkembangan akan
berlangsung dari kepala ke bagian bawah tubuh. Jadi bagian embrio kepala otak
dan mata berkembang mendahului bagian bawah, menurut perbandingan besarnya
diikuti bagian lainnya. Selanjutnya bayi belajar menggunakan tubuh bagian atas,
seperti kepala, mata dan mulut sebelum tubuh bagian bawah.
b. Prinsip
proximodistal (dari tengah tubuh menuju ke arah luar tubuh atau menyamping)
Prinsip ini perkembangan yang terjadi
pada tubuh bayi adalah dari tubuh bagian tengah ke arah tubuh bagian luar.
Kepala dan batang tubuh pada embrio berkembang sebelum anggota badan (tungkai
dan lengan) dan telapak tangan dan kaki berkembang sebelum jari tangan dan jari
kaki. Pertama bayi mengembangkan kemampuan untuk mengunakan lengan dan kaki
bagian atas, kemudian bagian siku dan lutut, kemudian lengan dan kaki bagian
baawah dan akhirnya jari tangan dan jari kaki.
c. Prinsip
arah perkembangan dari otot-otot besar (motorik kasar) ke otot-otot halus
(motorik halus)
Perkembangan ini merupakan perkembangan
otot-otot besar yang berkembang dari leher, badan, tangan dan kaki, sebelum
otot-otot kecil yang teradapat pada jari-jari tangan, pergelangan tangan dan
perkembangan mata.
2. Variasi
Perkembangan Fisik
Variasi perkembangan
fisik meliputi variasi individual dan variasi cultural.
a. Variasi
Individual
Perkembangan sistem tubuh yang terjadi
pada diri seorang anak sebagai individu, tidak merata dan tidak serempak.
Selain itu pertumbuhan antara satu individu dengan individu lainnya sangat bervariasi, berbeda dan sama sekali
tidak sama. Ada anak yang tinggi, gemuk, pendek, kurus, berambut lurus,
berkulit putih, berkulit hitam maupun kuning. Keragaman ini kebanyakan
disebabkan oleh faktor keturunan, namun pengalaman lingkungan juga berpengaruh
dalam beberapa hal. Misalnya, pengaruh gizi dan nutrisi.
b. Variasi
kultural
Pertumbuhan dan perkembangan fisik yang
dialami anak sangat dipengaruhi oleh kultur. Dapat dilihat dari segi fisik anak
Asia, Amerika Selatan dan Afrika memiliki kecendrungan lebih kecil dibandingkan
Amerika Utara, Utara Eropa dan Australia.
3. Pertumbuhan
Tinggi dan Berat
Bayi
tumbuh sangat cepat pada dua tahun pertama, sering kali berat badan mereka
meningkat ketika 4 sampai 6 bulanbahkan berlipat ganda sampai akhir tahun
pertama. Usia 3-6 tahun, anak-anak tampak tidak segemuk pada masa sebelumnya
dan penampilannya tampak lebih langsing. Walaupun usia 3 tahun pertama
pertumbuhan badan tidak secepat sebelumnya, namun tetap terjadi pertambahan
tinggi badan.
Ukuran
tubuh dipengaruhi oleh beberapa kondisi, diantaranya:
a. Pengaruh
keluarga
b. Gizi
c. Gangguan
emosional
d. Jenis
kelamin
e. Suku
bangsa
f. Kecerdasan
g. Status
sosial ekonomi
h. Kesehatan
i.
Fungsi endokrin
j.
Pengaruh pralahir
4.
Prinsip Perkembangan Fisik
Prinsip-prinsip perkembangan fisik:
a. Pertumbuhan
mempunyai arah
Secara umun
perubahan tubuh berlangsung dari tubuh bagian atas ke bagian bawah/membujur dan
menyamping/ dari tengah tubuh ke bagian luar tubuh.
b.
Pertumbuhan bergerak dari umum ke
khusus
Prinsip ini
menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan fisik bergerak maju dari umum ke
khusus. Gerakan bayi berlangsung dari gerakan motorik kasar menuju gerakan
motorik halus.
c.
Pertumbuhan terjadi secara beragam
dan terpadu
Beragam
maksudnya pertumbuhan berhubungan dengan proses kesiapan dan kematangan yang
terjadi dalam diri setiap individu dan setiap individu berkembang sesuai dengan
dirinya sendiri, tidak sama antara anak yang satu dengan yang lainnya. Setiap
bagian tubuh memiliki tempo dan kecepatan irama pertumbuhan masing-masing.
Terpadu maksudnya setiap satu kemampuan/keterampilan yang dicapai anak tidak
hanya ditentukan oleh satu organ tubuh saja melainkan melibatkan banyak organ
dan otot-otot tubuh.
d.
Pertumbuhan berlangsung secara
bervariasi
Kecepatan
pertumbuhan setiap anak berbeda dan perbedaan ini dapat dilihat dari dua cara,
yaitu setiap kecepatan pertumbuhan antara satu anak berbeda dengan anak lainnya
dan dalam diri seorang anak terdapat perbedaan dalam pertumbuhan masing-masing
organ tubuh.
e.
Pertumbuhan memiliki kecendrungan
optimal
Individu
akan berusaha mencapai pertumbuhan secara optimal dan setiap organ akan tumbuh
ke arah yang optimal pula.
f.
Pertumbuhan berlangsung dalam urutan
yang teratur
Pola urutan
dalam pertumbuhan dapat ditunjukkan atau terjadi pada hampir semua keterampilan
fisik. Urutan pertumbuhan merupakan suatu proses perkembangan yang bersifat
alamiah.
g.
Pertumbuhan mengandung bahaya yang
potensial
Kadang kala
pada setiap usia terdapat bahaya pada beberapa bidang perkembanganyang
mengganggu pola perkembangan yang normal. Bahaya ini ada yang berasal dari
lingkungan dan ada yang dari dalam diri sendiri.
h.
Pertumbuhan mengalami periode kritis
Periode
kritis adalah waktu ketika suatu perkembangan atau pertumbuhan atau
keterampilan sangat baik utuk berkembangan. Periode ini disebut pula dengan
masa “peka”.
Fungsi utama dari bidang perkembangan fisik adalah
terkait kemampuan anak untuk bergerak dan mengendalikan bagian tubuhnya. Proses
perbaikan (refinement) perkembangan fisik terkait dengan kematangan pada otak,
masuknya input dari sistem sensorik, adanya peningkatan ukuran dan jumlah urat
otot, sistem syaraf yang sehat dan kesempatan yang diberikan untuk berlatih.
Pandangan psikolog masa kini memperlihatkan juga bahwa lingkungan yaitu
pengalaman, memainkan peran yang sangat penting dalam timbulnya keterampilan
motorik yang baru.
5.
Prinsip Perkembangan Motorik
Studi yang
dilakukan mengenai umur dan urutan perkembangan motorik menghasilkan 5 prinsip
perkembangan motorik, yaitu:
a.
Perkembangan motorik bergantung pada
kematangan otot dan saraf
Gerakan
terampil belum dapat dikuasai anak sebelum mekanisme otot anak berkembang
optimal. Misal, untuk dapat berjalan maka otot-otot kaki harus sudah siap untuk
menopang tubuh anak dan saraf yang terlibat harus sudah matang.
b.
Belajar keterampilan motorik tidak
akan terjadi sebelum anak matang
Pelatihan
yang dilakukan sebelum kematangan anak mungkin akan menghasilkan beberapa
keuntungan sementara, namun dalam jangka panjang pengaruhnya tidak akan berarti
atau nihil.
c.
Perkembangan motorik mengikuti pola
yang dapat diramalkan
Perkembangan
motorik mengikuti prinsip arah perkembangan dan pola perkembangan motorik yang
dapat diramalkan terbukti dari adanya perubahan kegiatan massal ke kegiatan
khusus.
d.
Perkembangan motorik dimungkinkan
untuk dapat ditentukan
Perkembangan
mengikuti pola berdasarkan umur dan rata-rata adalah mungkin untuk menentukan
norma bentuk kegiatan motorik berikutnya.
e.
Perbedaan individu dalam laju
pertumbuhan motorik
Meskipun
terdapat pola untuk perkembangan motorik, namun tiap individu memiliki laju
pertumbuhan yang berbeda.
Sebagai
seorang anak tumbuh, sistem saraf-nya menjadi lebih matang. Karena ini terjadi,
anak menjadi lebih dan lebih mampu melakukan tindakan yang semakin kompleks.
Tingkat di mana keterampilan motorik muncul kadang-kadang merupakan
kekhawatiran bagi orang tua. Pengasuh sering khawatir tentang apakah anak-anak
mereka mengembangkan keterampilan-keterampilan pada tingkat normal. Sebagaimana
disebutkan di atas, harga mungkin agak berbeda. Namun, hampir semua anak-anak mulai
memperlihatkan keterampilan motorik ini pada tingkat yang cukup konsisten
kecuali beberapa jenis kecacatan hadir.
6. Jenis keterampilan motorik
Ada dua jenis keterampilan motorik:
- Bruto (atau besar)
keterampilan motorik melibatkan otot-otot yang
lebih besar termasuk lengan dan kaki. Tindakan yang membutuhkan
keterampilan motorik kasar meliputi berjalan, berlari, keseimbangan dan
koordinasi. Ketika mengevaluasi keterampilan motorik kasar, faktor-faktor
yang termasuk ahli melihat kekuatan, otot, kualitas gerakan dan berbagai
gerakan.
- Fine (atau kecil)
keterampilan motorik melibatkan otot kecil di jari,
jari kaki, mata dan daerah lainnya. Tindakan yang memerlukan keterampilan
motorik halus cenderung lebih rumit, seperti menggambar, menulis, memegang
benda, melempar, melambai dan penangkapan.
7.
Tahapan Perkembangan Fisik Dan Motorik Aud
1) Kategori : bayi / inflan ( anak usia
0-1 tahun)
a) Perkembangan fisik :
·
Pertumbuhan fisik terjadi secara cepat.
·
Waktu tidur lebih banyak.
·
Mulai tumbuh gigi.
b) Motorik kasar :
·
Mulai menggerakkan dan mengangkan kepalanya.
·
Bertopang pada dua tangan.
·
Dapat berguling atau tengkurap.
·
Mulai duduk sendiri.
·
Dapat berdiri sendiri.
·
Bermain dengan kedua tangan, dan memasukannya ke mulut.
c) Motorik halus :
·
Mencoba meraih benda disekitarnya.
·
Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain,
koordinasi dua tangan dan menggunakan ibu jari untuk memegang benda-benda yang
kecil.
·
Tertawa, bergurau.
·
Bermain cilupba.
2) Kategori : toddler ( anak usia 1- 2
tahun )
a) Perkembangan fisik :
·
Gizi bertambah.
·
Dapat mengendalikan keinginan untuk BAB atau BAK.
b) Motorik kasar :
·
Berjalan dengan lancer
·
Berlari maskipun masih kaku.
·
Anak tangga.
·
Menangkap bola dengan 2 tangan.
·
Lompat.
·
Menggunakan sepeda roda tiga.
c) Motorik halus :
·
Mengambil benda-benda kecil di kotak.
·
Menggunakan tangan untk membuka lembar buku.
·
Dapat mengambil 2 atau 3 buah benda.
·
Mengambil lebih dari 6 buah benda.
·
Mampu melakukan coretan-coretan.
3) Kategori : preschool ( anak usia 3-5
tahun )1.
a) Perkembangan fisik :
·
Perkambangan fisik melambat.
·
Selera makan kurang.
·
Tidur 2 sampai 4 jam lalu bangun dengan cepat dapat tertidur
lagi.
·
Memiliki perkembangan penampilan, proporsi tubuh, berat, dan
panjang badan.
b) Motorik kasar :
·
Berjalan dengan tangan berayun, mundur dan kaki berjinjit.
·
Berlari dengan seimbang dan dapat berhenti secara tiba-tiba.
·
Melompat untuk menjangkau ke atas atau ke depan.
·
Mengayu sepeda dengan cepat.
·
Menangkap dan melempar bola deengan cepat.3.
c) Motorik halus :
·
Mengancing baju
·
Dapat menggunakan gunting.
·
Menggunakan kuas, pensil, krayon untuk membuat coretan,
bentuk dan gambar.
4) Kategori : preschool ( anak usia 5-6
)
a) Motorik Kasar :
·
Berjalan seperti orang dewasa
·
Melompat dengan satu kaki secra bergantian, lompatan
panjang, tinggi dan jauh.
·
Menunjukkan kematangan berlari, jarang jatuh, memperlihatkan
kecepatanyang semakin bertambah dan dapat mengendalikan.
·
Kematangan memanjat seperti orang dewasa.
·
Mampu mengendarai sepeda roda dua.
b) Motorik Halus :
·
Dapat mengurus diri sendiri
·
Gambar yang dibuat sifat nya tidak lagi absrak, tetapi lebih
menunjuka apayang ada disekitarnya.
·
Dapat menbuat suatu karya dari plastisin seperti: kue dan
cacing.
·
Meniru melipat garis sederhana.
·
Meniru melipat kertas sederhana.
·
Belajar menggunting
·
Menyusun menara kubus.
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian
gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot
terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas
keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik
anak usia 4-5 tahun
lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru terjadi
perkembangan motorik halus.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana
seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi
kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka
sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga
untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani
mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih
percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu
obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan
orangtuanya (Santrock,1995: 225)
8.
Masalah Perkembangan Fisik –
Motorik Anak usia 4-6 tahun
a.
Masalah dalam perkembangan
fisik
·
Malnutrisi ( kurang gizi )
Anak – anak
yang mengalami kekurangan gizi akan tampak pada penampilan fisiknya. Mereka
terlihat lebih kurus dan lebih lemah bila dibandingkan dengan anak – anak lain
yang memperoleh cukup gizi. Masalah ini juga akan menyebabkan keluhan lain ,
misalnya bahwa mereka akan memiliki skor tes kecerdasan yang lebih rendah.
Mereka juga tampak tidak bergairah dan sering mengalami kesulitan untuk
memusatkan perhatian pada pelajaran di sekolah .
Dibutuhkan
kombinasi antara pengaturan pola dan asupan makanan pada anak serta kepedulian
dan kepekaan orang tua untuk melihat adanya tanda – tanda kurang gizi pada
anak.
·
Obesitas
Anak – anak
yang mengalami obesitas menjadi tidak popular dan memiliki rasa percaya diri
yang rendah. Disekolah mereka sering menjadi bahan ejekan teman-temannya .
gerakan mereka pun kaku dan terbatas sehingga membuat aktivitas fisik mereka
tidak selincah teman-temannya.
Melihat
bahwa factor utama yang menyebabkan anak mengalami obesitas ialah makan berlebih
dan kuran bergerak , maka cara yang paling baik untuk mengurangi obesitas
adalah mengatur pola makan dan rajin berolahraga.
b.
Masalah dalam perkembangan
motorik
·
Masalah / kesulitan dalam
motorik kasar
1.
Ketidakmampuan mangatur
keseimbangan
Anak – anak yang mengalami
kesulitan dalam mengatur keseimbangan tubuhnya biasanya juga memiliki kesulitan
dalam mengontrol gerakan anggota tubuh sehingga terkesan gerakannya ragu-ragu
dan tampak canggung. Masalah pengaturan keseimbangan tubuh ini berhubungan
dengan sisten vestibular atau system yang mengatur keseimbangan didalam tubuh.
Jika tidak segera ditangani , kesulitan ini akan dibawa terus oleh anak sampai
saat mereka sekolah dan akan mengakibatkan masalah lain, yaitu dalam hal
membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis pada dasarnya berhubungan
dengan kemampuan untuk menangkap informasi oleh system keseimbangannya.
Untuk mendeteksi apakah anak
mengalami kesulitan dalam pengaturan keseimbangan tubuhnya , hal yang harus
dilakukan adalah memperhatikan apakah anak sudah menguasai beberapa
keterampilan motorik sesuai dengan tahapan usianya dengan baik .
2.Reaksi kurang cepat dan koordinasi kurang baik
Hal ini dapat dilihat saat
anak melakukan permainan yang kompleks , misalnya bermain bola. Namun , ada
anak – anak yang lambat bereaksi . koordinasi gerakannya tampak kacau sehingga
sering disebut ‘ceroboh’ dan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Hal yang
menyebabkan masalah reaksi ini karena anak kurang diberi kesempatan untuk
berlatih , serta ada kemungkinan anak mempunyai masalah dalam syaraf motoriknya
.
·
Masalah / kesulitan dalam
motorik halus
1.Belum bisa
menggambar bentuk bermakna
Perlu
diwaspadai jika anak usia ini belum dapat menggambar beberapa bentuk yang
tergabung dengan baik menjadi satu bentuk yang lebih bermakna . misalnya ,
menggambar manusia, namun antara coretan kepala , badan, dan anggota tubuh yang
lain digambar terpisah . maka, kemampuan anak dalam mempersepsi apa yang ada di
sekitarnya perlu dipertanyakan.
2.Belum bisa
mewarnai dengan rapi
Apabila
sampai mendekati usia sekolah cara mewarnai anak seperti coretan warnanya masih
banyak yang keluar dari bidang gambar , bahkan anak terkesan tidak peduli dan
tidak tampak berupaya untuk menjaga agar coretan warnanya tidak keluar dari
bidang gambar , ada kemungkinan ini berhubungan dengan kemampuan lain yang
berkaitan dengan koordinasi mata-tangan, seperti menggunting , menempel.(Rini,
Hildayani ; 2008 )
9.
Cara meningkatkan keterampilan
motorik anak
Ada banyak factor yang dapat
mempengaruhi penguasaan keterampilan motorik pada seorang anak . selain factor
kematangan alat-alat tubuh , hal yang tidak kalah penting adalah factor latihan
dan pengalaman .
Berikut beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk membantu mereka dalam meningkatkan keterampilan
motoriknya .
1.
Dunia anak pada usia ini
adalah dunia bermain. Beri kesempatan pada anak untuk bermain yang dapat
melatih penguasaan keterampilan motorik kasar dan motorik halusnya .
2.
Sediakan peralatan dan lingkungan
yang memungkinkan anak melatih keterampilan motoriknya.
3.
Perkenalkan dan latihlah anak
dengan sebanyak mungkin jenis keterampilan motorik karena keberhasilan
menguasai suatu keterampilan bukan jaminan bagi anak untuk dapat menguasai
keterampilan yang lain .
4.
Tidak perlu membedakan
perlakuan pada anak laki – laki dan anak perempuan karena sesungguhnya pada
usia ini kemampuan dan ketertarikan anak terhadap aktivitas motorik adalah sama
.
5.
Jangan menekankan pada
kekuatan dan kecepatan , tetapi perhatikan gerakan dan postur tubuh yang benar
dalam melakukan aktivitas motorik tersebut .
6.
Sabarlah dalam menghadapi anak
karena berkembangnya suatu keterampilan motorik, juga tergantung waktu dan
keinginan anak untuk menguasainya. Oleh karenanya, jangan memaksa anak
menguasai keterampilan motorik melebihi batas kemampuannya.
7.
Pada dasarnya setiap anak
adalah unik . oleh karena itu, jangan membandingkan kemampuan motorik seorang
anak dengan anak lain yang seusia dengannya.
Daftar
Pustaka
Siti, Aisyiah
, dkk. 2011. Perkembangan dan Konsep
Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
Rini,
Hildayani,dkk. 2008 . Psikologi Perkembangan Anak . Jakarta : Universitas
Terbuka
Suryana,
Dadan.2013. Pendidikan Anak Usia Dini. Padang : UNP Press
Konsorsium
Sertifikasi Guru.2013. Modul PLPG Guru kelas Paud / TK